Menurut pandangan Agama (Islam), waktu merupakan dimensi yang sangat pokok, penting, terlebih dalam sebuah firman-Nya, Dia berfirman yang salah satu kandungannya ialah Dia telah bersumpah demi waktu. Maka dari itu, coba kita renungkan sejenak, apa yang membuat waktu menjadi sangat urgent? Jawabannya karena waktu itu teruslah berjalan, ia berjalan dan tak kembali lagi. Saat teman-teman bilang, "sekarang", seiring berlalu tak ada lagi ungkapan "sekarang" itu, karena apa? detik demi detik sampai seper sekian banyak detik terus berlalu. Makna 'sekarang' tadi telah berubah status menjadi 'tadi'. Kita hanya bisa mendefinisikan 'sekarang' dalam ruang lingkup beberapa detik/menit/yang lain. Dan pada firman-Nya yang lain pula, kita diajak memanfaatkan waktu yang tersisa di dunia ini untuk beramal dan jangan sampai menyia-nyiakan waktu yang ada. Disebutkan setelah kita selesai mengerjakan sesuatu hendaklah kita menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Saya mengajak pada saya sendiri dan teman-teman untuk memanfaatkan waktu/ detik-detik yang tersisa di bumi ini untuk melakukan hal-hal kebajikan, mematuhi perintah, menjalankan saran-saran/arahan Alloh Subhanahuwata'ala. Semoga sholawat dan salam juga tercurahkan pada Nabi akhir zaman, Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , semoga kita mendapat syafaat darinya kelak di yaumul akhir, Amiin. Ayo Tetap Semangat, Raih Kebaikan!!!
Di saat saudara-saudara kita baik se-Tanah Air maupun tidak, sedang berada di Makkah untuk menjalani Ibadah Haji, mari kita yang berada di kediaman kita masing-masing, untuk merenung akan arti keagamaan yang penting dan keprofetikan yang me-universal oleh Nabi Muhammad SAW. Sambil mendengar alunan syair yang indah tentunya.
Tepatnya pada 27 November kemarin, saya dan kawan-kawan saya(satu dari Purworejo dan yang satu dari Kepulauan Riau) berangkat dari Kost-an yang letaknya persis (diselingi beberapa bangunan)di sebelah utara Gedung STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) di Jakarta Timur, pada pukul 06.25 setelah berencana ingin berangkat Shalat Iedhul Adha dari kost-an pukul 06.00. Akan tetapi, semalaman begadang gak jelas jadi bangun agak siang. Kami bertiga ingin shalat Ied di STIS Jakarta setelah beberapa waktu sebelumnya membaca dan melihat ada spanduk dipasang di depan Masjid Alhasanah (Masjidnya STIS). Setelah sampai di depan Masjid Alhasanah, kami bertiga sedikit terkejut, dikarenakan melihat Masjid Alhasanah kosong di dalamnya. Akan tetapi, datangnya kami ke depan STIS pagi itu, tidaklah sendirian, ada banyak orang baik tua-muda, laki-perempuan ingin pula menghadiri acara Shalat Iedhul Adha 1430H pagi itu di STIS Jakarta. Kami bertiga, mengalihkan pandangan dari Masjid Alhasanah ke Gedung Baru Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang sudah setahun dibangun. Terlihat ada dua orang satpam di pintu kaca Gedung Baru STIS Jakarta tersebut sedang menyilakan antrian orang-orang berbusana gamis. Oh, tampaknya mereka juga akan menghadiri, mengikuti Shalat Ied pagi itu, pikirku. Terlihat dari kejauhan, karena pinggiran gedung tersebut sebagian dari kaca yang bening, saya melihat barisan wanita tua dan muda duduk rapi berbusana gamis juga. Tanpa pikir panjang, kami segera menyimpulkan kalau acara Shalat Iedhul Adha 1430 di STIS Jakarta ini dilaksanakan di lantai 1 Gedung Baru STIS Jakarta. Kami dan warga lain pun tentunya belum pernah masuk ke dalam Gedung STIS Baru tersebut tentunya. Setelah masuk terlihatlah jamaah Shalat Iedhul Adha 1430 H waktu itu memadati ruangan lantai 1 gedung STIS tersebut. Terdengar pula seseorang panitia yang mengatur barisan(Shaf Shalat) agar ruangan menjadi efektif dan tentunya Shaf Shalat menjadi rapat. Kami mulai menyusur maju, melewati jamaah putrid yang ada di belakang, terlihat ada kain-kain penyekat layaknya di dalam masjid pada umumnya. Yang tentunya penyekat-penyekat itu khusus dibuat/diadakan untuk melaksanakan Shalat Iedhul Adha 1430H di STIS Jakarta. Akhirnya setelah sementara waktu berjalan, sedikit berkelok menuju ke dalam, di dalamnya seperti akan digunakan sebagai aula(mungkin) karena terlihat cukup luas, tapi belum terdapat perabotan dan dindingnya pun masih berupa semen seperti adanya belum dilapisi apa-apa. Terlihat oleh mata kami, telah berbaris jamaah putra di bagian barat ruangan Gedung Lantai 1 STIS Jakarta itu. Kami mengalihkan pandangan pada bagian bawah, pada bagian yang belum terisi barisan-barisan jamaah Shalat Ied, oh, lantainya juga masih seperti apa adanya warnanya masih sama dengan dinding bagian dalam Gedung Baru STIS Jakarta tersebut. Ternyata, para jamaah yang sudah ada di dalam telah melengkapi diri dengan sajadah(alas untuk shalat, biasanya digunakan di ruang terbuka, example: lapangan, alun-alun), karena apa, biasanya Shalat untuk Hari-hari Raya, ialah di ruangan terbuka untuk syiar Islam itu sendiri. Namun, kali ini karena shalat di Gedung yang baru saja selesai dibangun, para jamaah telah menggelar sajadah mereka setelah dilapisi koran bekas. Kami bertiga pun berinisiatif untuk mengambil gulungan sajadah yang berisi empat kotak yang ada di depan (beranda) Masjid Alhasanah STIS Jakarta. Sebelum mendengarkan khotbah,kami jamaah Shalat Iedhul Adha 1430H di STIS Jakarta mengikuti/melaksanakan Shalat Iedhul Adha, setelah sebelumnya diberitahukan, yakni seputar tata cara shalat Iedhul Adha khususnya pada saat Takbiratul Ikhrom, pada rakaat pertama Takbiratul Ikhrom sebanyak tujuh kali dan pada rakaat kedua Takbiratul Ikhrom sebanyak lima kali, (Takbiratul Ikhrom adalah gerakan tangan naik ke atas, kemudian turun dan mengucapkan takbir[Allohu Akbar] saat kita memulai suatu Sholat). Di dalam khotbahnya, Sang Ustadz mengisahkan kembali peristiwa bersejarah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim hingga kita kenang sebagai perisitiwa Qurban dengan kambing, sapi, domba, etc. Dikisahkan pula mengenai peristiwa Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as yang baru saja menimang putra dan ditinggalkan di sebuah tempat lantaran petunjuk/perintah Alloh Ta’ala pada Nabi Ibrahim kala itu. Dan pada bagian khotbah lainnya, Pak Ustadz memerintahkan kita untuk berbuat kebajikan seperti yang diperintahkan Alloh Ta’ala dan dicontohkan oleh para Nabi dan Rosul, termasuk Nabi akhir jaman, Nabi Muhammad SAW, semoga shalawat dan salam selalu tercurah pada beliau. Siang harinya, kami shalat Jum’at di Masjid Alhasanah, kami memperoleh Shaf di bagian luar Masjid, karena sebagian tempat di utara baru saja digunakan untuk acara penyembelihan hewan qurban, bagian utara luar Masjid Alhasanah yang biasanya terdapat tikar untuk tambahan perpanjangan Shaf saat Shalat Jum’at pun tidak ada, terpaksa saya harus beralaskan sandal dan sepatu orang/jamaah Shalat Jumat kala itu untuk berdiri saat shalat. Ternyata, setelah saya pikir, sajadah itu penting juga ya.
Keterangan Gambar: gambar diambil pada tanggal 30 November. Terlihat muazin sedang adzan Shalat Dzuhur di Masjid Alhasanah STIS Jakarta. Terlihat pula papan reklame Sensus Penduduk 2010 di depan Gedung Baru STIS Jakarta. Gambar selanjutnya ialah papan nama Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta. Sedangkan gambar berikutnya yakni gedung depan STIS Jakarta yang baru saja dibangun. Dapat disaksikan pula bagian beranda dari Gedung baru STIS Jakarta yang juga digunakan sebagai tempat parkir tambahan.
Ber-Muhammadiyah merupakan suatu pilihan untuk melaksanakan saran dan aturan Alloh Subhanahuwata'ala. Ini dikarenakan (pertama) dari makna 'Muhammadiyah' itu sendiri, yang berarti(dalam bahasa Indonesia-nya) 'pengikut Muhammad'. Dan kita semua tahu dan paham kalau Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ialah utusan Alloh Ta'ala dan ia merupakan Rosul Akhir zaman. Ini berarti satu-satunya sumber manusia yang harus kita contoh (karena dialah suri tauladan bagi manusia), terlebih lagi sosoknya yang merupakan Rosul untuk seluruh umat manusia di bumi ini untuk fase yang terakhir. Berarti dari segi namanya saja, Muhammadiyah / Pengikut Muhammad ini telah relevan untuk kita yang mengaku umat Muhammad صلى الله عليه وسلم. Konsekuensi dari segi nama ini, tentunya Muhammadiyah menyebarluaskan Agama Islam (Dien Al Islam) berdasar Al-Qur'an dan Sunnah Rosululloh. Dan poin keduanya ialah, di dalam visi misi Muhammadiyah sendiri, yakni dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangganya, Muhammadiyah mengajak kita semua, sebagai manusia ciptaan Alloh Subhanahuwata'ala, untuk senantiasa mengamalkan ajaran Agama Islam, di mana tujuan akhir dari pelaksanaan itu semua ialah untuk kebaikan kita juga. Caranya, ialah, dengan bersumber pada Al Qur'an dan Sunnah. Semuanya kita terapkan pada kehidupan keseharian kita. Konsekuensi Muhammadiyah karena mengikuti tuntunan Muhammad صلى الله عليه وسلم ialah Muhammadiyah mengajak kita untuk berpegang teguh pada tauhid yang murni. Dan selanjutnya, kita sebagai manusia, hendaknya juga menda'wahkan Agama Islam ini, dengan maksud ketentraman, kebahagiaan, kesejahteraan serta kemakmuran kita akan terjamin bahkan tidak hanya di negeri dunia ini saja. Atas dasar itu semua, mari jangan segan-segan kita untuk segera ber-Muhammadiyah. Insya Alloh kehidupan kita akan lebih baik. Amiin..
Untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Jogyakarta mendatang dimana diperingati juga sebagai Peringatan seabad Muhammadiyah dari kelahirannya pada tahun 1912, maka telah ada Mars-nya, berikut:
Coba ketika teman-teman semua diberi sebuah bola. Lalu, saya menyuruh teman-teman untuk melemparkan bola tersebut ke mana saja, terserah. Sekarang, kembali ambil bola tadi. Perintah saya sekarang adalah, lempar bola yang teman-teman pegang ke arah botol yang sudah saya persiapkan. Lalu, muncul pertanyaan, apa arti instruksi-instruksi saya tadi? Tentu ada maknanya, saat teman-teman semua saya perintahkan melempar bola ke arah sembarang, di diri teman-teman tak ada beban, ringan. Namun, saat saya menginstruksikan untuk melempar botol / arah tertentu, di situlah terdapat beban yakni tanggung jawab. Yang mau saya kemukakan adalah, bagaimana korelasi bola dengan hidup ini. Bola tadi bisa diibaratkan sebagai tujuan hidup manusia (baca: kita). Ini berarti, ada manusia yang punya tujuan hidup dan tidak. Hal ini sangat terkait dengan masalah hati (Qolbu) manusia. Hati manusia ada yang Qolbun Salim maksudnya hati yang selamat atau sehat, Qolbun Marids atau hati yang sakit, dan Qolbun Mayit atau hati yang mati. Titik permasalahan terkait dengan hati manusia yang sakit bahkan mati tadi ialah, ketidakpahaman, kemalasan, perasaan cukup, dan kesombongan. Karena itulah, kawanku semua, mari kita tentukan tujuan hidup kita semua, agar kita punya rasa tanggung jawab. Nilai-nilai keIslaman mestilah kita tebarkan di kehidupan sehari-hari. Semua adalah untuk kepentingan kebahagiaan dunia wal akhirat. Kalau bukan kita-kita, mahasiswa-mahasiswa, pemuda-pemuda, siapa lagi?? Mari, dengan semangat kebajikan kita coba Membangun Kecedasan Hati dan Intelektual. Terinspirasi dari http://uny.ac.id/data.php?m=951da6b7179a4f697cc89d36acf74e52&i=1&k=6038. Foto adalah Bapak Suwodo, tulisan termuat dari pembukaan materi di FIK UNY oleh beliau. Foto diambil dari situs yang sama.