Archive for the ‘STIS’ Category

Tea Walk BPS 2009

Saturday, January 23rd, 2010



Tea: Teh, dan Walk: jalan. Jadi apa yang dinamakan Tea Walk ialah jalan-jalan di kebun teh. Kemarin (beberapa minggu lalu) tepatnya pada 18 Oktober 2009, kami sekeluarga Sekolah Tinggi Ilmu Statistik mengadakan(mengikuti) Tea Walk di daerah Puncak, Bogor, tepatnya di Lokasi Gunung Mas. Di sana kami berbaur, berkumpul bersama Keluarga Besar Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta.
Tujuan diadakannya Tea Walk ini ialah, untuk mengakrabkan para Keluarga Besar BPS dan STIS (dulunya Akademi Ilmu Statistik). Akan tetapi, di sana juga diadakan sosialisasi Sensus Penduduk 2010 (SP 2010).
Kami,keluarga STIS berangkat dengan menaiki Sembilan Bus. Tiba di sana kami disambut bersama rombongan lain. Ternyata di sana telah didirikan tenda yang cukup di sekitar panggung yang berdiri di sebelah utara. Sebelumnya setiap dari kami mahasiswa STIS per kelas telah dibagi menjadi beberapa kelompok (regu) untuk mengikuti Tea Walk (Jalan Santai di Kebun Teh Gunung Mas Bogor). Kami telah di beri nomor dada dan punggung. Acara pun dimulai, kami diberangkatkan sekaligus untuk beberapa regu, begitu terus hingga sampai semuanya berangkat untuk mengitari Rute Perjalanan Santai Gunung Mas Bogor. Lumayan juga berjalan-jalan santai ria sehabis duduk sementara waktu di Bus dari Otista Jakarta Timur. Kami mulai mengelilingi pinggiran kebun, terlihat jalan-jalan kecil di antara pohon-pohon teh nan hijau. Keharuman teh sekaligus hawa dingin menyrebak saat perjalanan dimulai hingga beberapa waktu berlalu. Namun, setelah sinar mentari mulai menyinari Bukit Teh, suasana lumayan berganti setidaknya agak hangat, apalagi kita juga berjalan, naik dan turun, menyusuri jalanan setapak yang ada di sana.
Beberapa jarak dari lokasi start acara Tea Walk Gunung Mas ini, kami semua, peserta Tea Walk, dibekali minuman botol, teh juga, tapi bukan dari Daun Kebun Teh Gunung Mas ini tentunya. Pada awalnya, kami berjalan kea rah selatan, tenggara, naik berkelok menuju arah selatan, terlihatlah pemandangan yang asri yang menggambarkan keelokan kebun teh Gunung Mas Bogor ini. Sesekali kami berfoto bersama, seregu,antarregu, numpang regu lain. Sehingga terjadilah keadaan yang bisa dinamakan sebagai susul-menyusul di antara para regu peserta Tea Walk Gunung Mas ini. Perlu ditambahkan, kami semua, peserta Tea Walk Gunung Mas Bogor, waktu lalu memakai seragam kaos Sensus Penduduk 2010, yang telah dibagikan sebelumnya, lengkap dengan topi Sensus Penduduk 2010, dengan berlogo BPS di sampingnya. Untuk mahasiswa STIS Tingkat I (Angkatan VI) sendiri dengan celana panjang hitam yang telah ditentukan dan diseragamkan dengan sepatu kets warrior hitam bertali putih.
Usai menyusur ke selatan, berkelok ke arah barat, sesuai rute Tea Walk Gunung Mas, kami kembali ke arah utara, kembali terlihat suasana yang sangat luar biasa, pemandangan alam yang indah sekali, hijau bagai zamrud, dikelilingi kabut, suasana terasa menenangkan. Kali ini kami berjalan menurun, ditemani bebatuan sedang yang cukup terjal, kami harus berhati-hati. Beberapa waktu, kami sampai di jalan persimpangan, turun kembali hingga sampailah ke tempat semula kami berangkat. Acara kemudian yakni pembagian air minum putih botol kembali (sama dengan awal kami datang), bedanya, pada saat kami datang disertai makanan camilan/jajanan, tapi kali ini kami memperoleh sekotak nasi yang di dalamnya cukup (bahkan bisa jadi sisa) untuk dimakan oleh seorang peserta Tea Walk Gunung Mas waktu lalu. Sejenak kami menikmati nasi kotak tersebut dengan duduk-duduk di sekitar lokasi tenda. Acara puncak pun dimulai, yakni pengundian hadiah, ada blender, ponsel, barang elektronik lain, motor,netbook, dan lain-lain, dan puncak hadiah ialah matic. Acara ini dapat terselenggara berkat dikumpulkannya kartu tanda peserta berwarna pink yang tertulis masing-masing identitas yang jelas dari peserta Tea Walk Gunung Mas.
Satu persatu hadiah pun mulai diundikan, banyak yang mendapatkannya dari pegawai BPS. Sedangkan untuk mahasiswa STIS, beberapa dari Tingkat III, IV, itu seingat saya. Acara pun usai diselingi beberapa sesi pemotretan menggunakan kamera masing-masing, dengan pose, latar, kondisi, ekspresi yang bebas kami menuju bus masing-masing. Dan perjalanan menuju kost-an masing-masing pun lancar. Alhamdulillah saya ucapkan atas kesempatan yang begitu baik, menggembirakan, sekaligus menyenangkan ini.
Catatan: foto-foto diambil dari kamera ponsel teman saya, terima kasih buat Saudari Marlina.



Ujian Tengah Semester Gasal Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Friday, January 22nd, 2010

Seperti Perguruan-perguruan Tinggi yang lain (walaupun PTN lain sudah melaksanakannya), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta pun rencananya, dijadwalkan dalam waktu dekat akan mengadakan Ujian Tengah Semester.
Ujian rencananya akan dilaksanakan setelah Hari Raya Iedhul Adha yang akan tiba sebentar lagi . Meskipun pada kenyataannya, satu semester di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik tidaklah penuh selama enam bulan. Untuk itu, saya meminta do’a dan restu dari para blogger dan netter sekalian untuk dengan seikhlas-ikhlasnya, mendoakan saya, agar saya mendapatkan kecerahan berpikir, kecerdasan, kemampuan untuk menyelesaikan Ujian Tengah Semester Gasal Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (ada ALIN, Pengamat, Metstat Praktik dan Teori, Pengantar Ekonomi, Pengantar Demografi, Bahasa Inggris, Pengantar Teknologi Informasi) dengan sebaik mungkin dan dengan diiringi keberkahan yang luas dari Alloh Ta’ala. Amiin. Semoga di momen yang baik ini, saya Affan Rifaki mendapat kemudahan berpikir, kemampuan berkonsentrasi yang tinggi serta kapasitas ingatan yang besar. Amiin. Terima kasih untuk para blogger dan netter yang mengapresiasi postingan saya ini.
Catatan: Foto yang terlampir di atas ialah suasana kelas 1 G Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Angkatan 51 yang sedang menunggu kuliah di salah satu ruangan kelas.


Shalat Iedhul Adha di STIS Jakarta

Thursday, January 21st, 2010






Tepatnya pada 27 November kemarin, saya dan kawan-kawan saya(satu dari Purworejo dan yang satu dari Kepulauan Riau) berangkat dari Kost-an yang letaknya persis (diselingi beberapa bangunan)di sebelah utara Gedung STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) di Jakarta Timur, pada pukul 06.25 setelah berencana ingin berangkat Shalat Iedhul Adha dari kost-an pukul 06.00.

Akan tetapi, semalaman begadang gak jelas jadi bangun agak siang. Kami bertiga ingin shalat Ied di STIS Jakarta setelah beberapa waktu sebelumnya membaca dan melihat ada spanduk dipasang di depan Masjid Alhasanah (Masjidnya STIS). Setelah sampai di depan Masjid Alhasanah, kami bertiga sedikit terkejut, dikarenakan melihat Masjid Alhasanah kosong di dalamnya. Akan tetapi, datangnya kami ke depan STIS pagi itu, tidaklah sendirian, ada banyak orang baik tua-muda, laki-perempuan ingin pula menghadiri acara Shalat Iedhul Adha 1430H pagi itu di STIS Jakarta. Kami bertiga, mengalihkan pandangan dari Masjid Alhasanah ke Gedung Baru Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang sudah setahun dibangun. Terlihat ada dua orang satpam di pintu kaca Gedung Baru STIS Jakarta tersebut sedang menyilakan antrian orang-orang berbusana gamis. Oh, tampaknya mereka juga akan menghadiri, mengikuti Shalat Ied pagi itu, pikirku. Terlihat dari kejauhan, karena pinggiran gedung tersebut sebagian dari kaca yang bening, saya melihat barisan wanita tua dan muda duduk rapi berbusana gamis juga. Tanpa pikir panjang, kami segera menyimpulkan kalau acara Shalat Iedhul Adha 1430 di STIS Jakarta ini dilaksanakan di lantai 1 Gedung Baru STIS Jakarta. Kami dan warga lain pun tentunya belum pernah masuk ke dalam Gedung STIS Baru tersebut tentunya. Setelah masuk terlihatlah jamaah Shalat Iedhul Adha 1430 H waktu itu memadati ruangan lantai 1 gedung STIS tersebut. Terdengar pula seseorang panitia yang mengatur barisan(Shaf Shalat) agar ruangan menjadi efektif dan tentunya Shaf Shalat menjadi rapat. Kami mulai menyusur maju, melewati jamaah putrid yang ada di belakang, terlihat ada kain-kain penyekat layaknya di dalam masjid pada umumnya. Yang tentunya penyekat-penyekat itu khusus dibuat/diadakan untuk melaksanakan Shalat Iedhul Adha 1430H di STIS Jakarta. Akhirnya setelah sementara waktu berjalan, sedikit berkelok menuju ke dalam, di dalamnya seperti akan digunakan sebagai aula(mungkin) karena terlihat cukup luas, tapi belum terdapat perabotan dan dindingnya pun masih berupa semen seperti adanya belum dilapisi apa-apa. Terlihat oleh mata kami, telah berbaris jamaah putra di bagian barat ruangan Gedung Lantai 1 STIS Jakarta itu. Kami mengalihkan pandangan pada bagian bawah, pada bagian yang belum terisi barisan-barisan jamaah Shalat Ied, oh, lantainya juga masih seperti apa adanya warnanya masih sama dengan dinding bagian dalam Gedung Baru STIS Jakarta tersebut. Ternyata, para jamaah yang sudah ada di dalam telah melengkapi diri dengan sajadah(alas untuk shalat, biasanya digunakan di ruang terbuka, example: lapangan, alun-alun), karena apa, biasanya Shalat untuk Hari-hari Raya, ialah di ruangan terbuka untuk syiar Islam itu sendiri. Namun, kali ini karena shalat di Gedung yang baru saja selesai dibangun, para jamaah telah menggelar sajadah mereka setelah dilapisi koran bekas. Kami bertiga pun berinisiatif untuk mengambil gulungan sajadah yang berisi empat kotak yang ada di depan (beranda) Masjid Alhasanah STIS Jakarta.
Sebelum mendengarkan khotbah,kami jamaah Shalat Iedhul Adha 1430H di STIS Jakarta mengikuti/melaksanakan Shalat Iedhul Adha, setelah sebelumnya diberitahukan, yakni seputar tata cara shalat Iedhul Adha khususnya pada saat Takbiratul Ikhrom, pada rakaat pertama Takbiratul Ikhrom sebanyak tujuh kali dan pada rakaat kedua Takbiratul Ikhrom sebanyak lima kali, (Takbiratul Ikhrom adalah gerakan tangan naik ke atas, kemudian turun dan mengucapkan takbir[Allohu Akbar] saat kita memulai suatu Sholat). Di dalam khotbahnya, Sang Ustadz mengisahkan kembali peristiwa bersejarah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim hingga kita kenang sebagai perisitiwa Qurban dengan kambing, sapi, domba, etc. Dikisahkan pula mengenai peristiwa Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as yang baru saja menimang putra dan ditinggalkan di sebuah tempat lantaran petunjuk/perintah Alloh Ta’ala pada Nabi Ibrahim kala itu. Dan pada bagian khotbah lainnya, Pak Ustadz memerintahkan kita untuk berbuat kebajikan seperti yang diperintahkan Alloh Ta’ala dan dicontohkan oleh para Nabi dan Rosul, termasuk Nabi akhir jaman, Nabi Muhammad SAW, semoga shalawat dan salam selalu tercurah pada beliau.
Siang harinya, kami shalat Jum’at di Masjid Alhasanah, kami memperoleh Shaf di bagian luar Masjid, karena sebagian tempat di utara baru saja digunakan untuk acara penyembelihan hewan qurban, bagian utara luar Masjid Alhasanah yang biasanya terdapat tikar untuk tambahan perpanjangan Shaf saat Shalat Jum’at pun tidak ada, terpaksa saya harus beralaskan sandal dan sepatu orang/jamaah Shalat Jumat kala itu untuk berdiri saat shalat. Ternyata, setelah saya pikir, sajadah itu penting juga ya.

Keterangan Gambar: gambar diambil pada tanggal 30 November. Terlihat muazin sedang adzan Shalat Dzuhur di Masjid Alhasanah STIS Jakarta. Terlihat pula papan reklame Sensus Penduduk 2010 di depan Gedung Baru STIS Jakarta. Gambar selanjutnya ialah papan nama Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta. Sedangkan gambar berikutnya yakni gedung depan STIS Jakarta yang baru saja dibangun. Dapat disaksikan pula bagian beranda dari Gedung baru STIS Jakarta yang juga digunakan sebagai tempat parkir tambahan.

Tips dan trik saat UTS

Wednesday, January 20th, 2010

Banyak orang(mahasiswa/siswa) menghadapi suatu yang dinamakan Ujian Tengah Semester. Lalu yang menjadi masalah ialah, apa saja yang perlu kita(sebagai mahasiswa maupun siswa biasa) lakukan dalam menyambut serta menghadapi kegiatan Ujian Tengah Semester di sekolah kita masing-masing? Pada dasarnya ada beberapa tips dan trik yang cukup menarik dan bisa dipraktikkan oleh kita sebagai manusia. Apakah itu?
Jawabannya ialah:
1. Jangan begadang saat malam Ujian Tengah Semester(UTS) akan dilaksanakan. Patut untuk diketahui, pola begadang kita untuk menghadapi UTS ataupun macam ujian yang lain dengan meminum minuman khusus yang layak disebut kopi/coffe, apapun jenisnya itu, apapun namanya, apapun merk dagangnya, berapapun harganya, dimanapun membelinya, dicampur pake(dengan) apa aja(saja), telah membuat tubuh kita dipaksa bergerak, memaksa mata kita untuk terbuka, ini jelas tidak wajar dan terkesan dipaksakan sehinggs tidak lumrah untuk dirasakan. Apalagi konon katanya kopi/coffe telah memberikan kita cafein. Yang artinya zat tersebut akan/telah membuat efek keinginan yang berulang untuk meneguknya pada kita.
2. Cobalah makan, minum makanan maupun minuman yang bergizi, jangan makan/minum yang sembarangan. Pastikan kebersihan makanan/minuman tersebut(yang kita konsumsi) ialah makanan yang higienis dan tentunya halal. Ini akan berpengaruh pada daya tahan tubuh, konsentrasi dan yang pasti berpengaruh ke supplay energi yang cukup bagi anggota tubuh ini. Bayangkan saja kita/seseorang pingsan saat mengerjakan atau bahkan baru beberapa menit masuk ke ruangan Ujian Tengah Semester hanya karena perut kosong. Ini sangat tidak diharapkan tentunya. Yang diharapkan ialah, kita mampu mengunjungi tempat UTS dengan keadaan yang prima, segar, muka berseri-seri sambil menebarkan senyuman setulus mungkin pada teman yang ada di sekitar kita. Tapi yang harus diperhatikan, jangan pernah senyam-senyum saat mengerjakan UTS atau bentuk/nama ujian apapun itu.
3. Cobalah persiapkan costum/pakaian dengan baik, lengkap, serapi mungkin, hingga tampak pada diri kita dengan apa yang orang katakan 'good looking'. Entah bagaimana keseharian penampilan seragam teman-teman saat hari-hari biasa(hari di mana masih ada interaksi dosen/guru dan siswanya dalam hal materi yang akan dipelajari). Pokoknya usahan serapi mungkin, lantaran apa? Dengan pakaian yang rapi, sopan, menutup aurat, kita akan nyaman saat menuju sekolah/kampus, jalan di lingkungannya, melihat ruangan ujian, memasukinya, bertemu teman yang lain, yang pasti kita akan memperoleh timbal balik yang sifatnya positif dikarenakan pakaian yang kita kenakan, baik secara langsung maupun tidak, baik secara sadar maupnu tak disadar.
4. Pastikan perlengkapan tulis kita lengkap. Kalau berupa Lembar Jawab Komputer, ya, bawa pensil 2B yang asli, karet untuk menghapus, serta papan kerja/tulis. Untuk yang bentuk Essay, ya, usahakan bawa pulpen/pena/ballpoint sendiri, ditambah tipe-ex juga boleh, pensil juga gak(tidak) apa-apa. Untuk ujian tertentu yang dibolehkan memakai kalkulator, ya, bawa kalkulator. Pertanyaannya, mengapa diri kita harus dilengkapi dengan berbagai macam, bentuk, jenis, nama, kegunaan, alat-alat tulis/ujian tadi? Penjabarannya ialah, saat Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian-ujian lainnya tengah berlangsung, kita tengok, pasti ada seorang/dua orang/lebih (tergantung jumlah peserta UTS dalam satu ruangan) pengawas. Kalau saja ada alat-alat kita yang kurang lengkap, padahal alat tersebut sangatlah urgen, mendasar, pokok, penting, kunci mati, tak bisa ditawar, tak bisa disubstitusi, dan bersifat harus dipenuhi, kita lalu meminjam teman, nah, yang tau(tahu) tujuan kita sebenarnya(hati kita) hanyalah kita dan Alloh SWT saja, kita bisa disangka melakukan komunikasi baik secara searah maupun dua arah dengan kawan kita sesama peserta Ujian Tengah Semester atau Ujian jenis lainnya. Untung kalau kita diingatkan saja, misal 'ayo jangan pinjam, lain kali bawa sendiri', opsi dua adalah, kita dicatat tanpa ada suatu suara pun, nama kita dicoret dari jajaran peserta yang ada di bawah pengawasan sang pengawas, lembar jawaban kita disobek. Jangan sampailah kita kayak(seperti) ini. Na'udzubillah.
5. Perhatikan, baca, dengan sangat teliti dan waspada petunjuk-petunjuk yang tercetak/dicetak pada lembar soal Uian Tengah Semester atau Ujian-ujian yang lain. Jangan sampai kita mengerjakan soal secara berlebihan(maksudnya: berlebihan jumlahnya) karena ternyata di lembar soal tercetak petunjuk 'kerjakan 5 dari 8 soal di bawah ini', inilah yang harus kita baca, perhatikan, laksanakan, karena petunjuk-petunjuk tersebut merupakan suatu amanah yang mesti dijalankan bagi para peserta yang mengerjakannya.
6. Cobalah menulis dengan tatanan yang benar, baku, bentuknya jelas, sehingga mampu menggambar apa yang ingin kita jawab, utarakan, yakni apa yang ada di pikiran, ingatan kita masing-masing. Dan jangan menambah gambar/garis/tulisan yang tidak perlu di lembar jawaban kita(ini biasanya terjadi pada murid sekolah dasar). Semoga saya bisa melakukannya. Amiin.
7. Jangan sombong untuk berdo'a pada Alloh SWT. yang telah menganugerahkan pada kita semua akal pikiran, hati/perasaan, intelegensi, yang membuat kita bisa berpikir logis, memecahkan persoalan matematis, sosial, keuangan, maupun ilmu-ilmu yang lainnya. Do'a bisa dilafalkan saat akan mengerjakan UTS atau jenis ujian lain. Dan yang penting kita juga harus berusaha dzikra/mengingat Alloh SWT. walau dengan hati kita. Point ketujuh ini merupakan kunci utama bagi kesiapan-kesiapan (UTS/Ujian apapun itu) yang lain.
Nah, mungkin itu dulu saja yang bisa saya sajikan sebagai tips dan trik UTS tepatnya saat kita akan, dan saat kita mengikutinya. Akhir penulisan saya ucapkan Selamat Menempuh, Berjuang dengan penuh Harapan, diiringi cahaya Gembira yang terpancar di Raut muka kalian semuanya yang kelak pada akhirnya mengantarkan kita pada Kesuksesan dan Keridhoan dari Illahi Robbi, Alloh Azzawajala.
Amiin, amiin, amiin, yaa Robbal 'alamiin.
Keterangan foto: Bagian depan dari salah satu ruangan kelas di gedung lama Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Sampai tulisan ini dibuat gedung tersebut masih difungsikan.

Bidara Cina

Sunday, January 10th, 2010
Bidara Cina ini merupakan suatu nama kelurahan di Jatinegara Jakarta Timur. Di sinilah letak Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Lokasinya bersebelahan dengan Jalan Oto Iskandardinata(Otista). Terdapat benyak kegiatan masyarakat di sini, ada yang berdagang warteg, kaki lima, depot isi ulang, di sini juga terdapat pasar yang selalu ramai tiap pagi hari. Terdapat bermacam jenis barang yang dijual disini. Pasar ini biasa terjadi di sebuah tempat dari depan SD Bidaracina ke utara lalu memanjang ke barat menyusuri jalan yang baru saja diaspal ulang.
Dan disekitar jalan pasar terdapat pula Kost-an bagi para mahasiswa yang ingin tinggal tidak jauh dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Macamnya, ada yang bayar bulanan dan bayar per tahun, dan ada pula yang menyewa/mengkontrak suatu rumah/bangunan untuk satu tahun dan biasanya diisi beberapa mahasiswa sekaligus. Lokasi-lokasi yang merupakan bersifat strategis yakni, warteg, tempat fotocopy-an, warung yang jualan pulsa, warung yang nyediain internet. Akan tetapi kita musti waspada juga dengan yang disebut-sebut dengan banjir. Karena banjir sangat merugikan kita, ya kan??

Jadi dari Bidaracina inilah semua cerita bermula..
Kami berempat mulanya indekost lalu ingin berubah status menjadi mengontrak.
Semangat pantang menyerah!!! Bismillahirrohmaanirrohiim...


STIS Jakarta

Tuesday, January 5th, 2010

bagian_depan_gedung_stis_baruPertanyaannya, mengapa pilih STIS atau Sekolah Tinggi Ilmu Statistik? Jawabannya, karena pada saat ini, Badan Pusat Statistik (BPS), tengah mencari tenaga yang Profesional dalam bidang Perstatistikan. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik sebagai bagian dari BPS dalam mencetak kader Statistisi berencana memperbanyak Quota Siswa/Siswi SMA seluruh Daerah di Indonesia ini pada Tahun Penerimaan 2010 ini.

Hal tersebut sangatlah sejalan dengan dibangunnya gedung STIS yang baru menggantikan gedung lama. Letak STIS juga masih sama yakni di Jalan OTISTA 64C JakTim, yang tepatnya berada di Kelurahan BidaraCina Kecamatan Jatinegara. Gedung yang baru tentu membuat Semangat Mahasiswa/Mahasiswinya baru juga. Dengan diiringi harapan mewujudkan Perstatistikan yang Membawa Kebajikan bagi Manusia tentunya.